Bentrokan di Mapolres Karawang : Keadilan atau Kekerasan, Pilihan di Tangan Aparat”

0
IMG-20250830-WA0031

Karawang, Kutipan-news.co.id – Kericuhan mewarnai aksi unjuk rasa ribuan massa di Mapolres Karawang, Jawa Barat, Jumat sore (29/8/ 2025).

 

Massa yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, dan komunitas ojek online memadati halaman Mapolres sejak pukul 14.30 WIB. Mereka menggelar aksi protes untuk menuntut keadilan atas meninggalnya Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online yang tewas terlindas kendaraan taktis (rantis) Brimob saat aksi di Jakarta beberapa waktu lalu.

 

Selain itu, mereka juga menuntut penjelasan dari pihak kepolisian terkait penahanan 49 pelajar yang diamankan sehari sebelumnya.

 

Kericuhan Pecah, Massa Menerobos Gerbang Mapolres

 

Sekitar pukul 15.00 WIB, situasi semakin memanas saat massa mulai merangsek dan mendorong pagar utama Mapolres. Akibatnya, gerbang Mapolres roboh, memicu kericuhan besar. Suasana semakin kacau ketika batu dan petasan mulai diterbangkan ke arah aparat kepolisian yang bertugas.

 

Aparat pun terpaksa membalas dengan tembakan gas air mata untuk membubarkan massa. Aksi ini membuat kerumunan massa kocar-kacir, namun beberapa pengunjuk rasa berhasil ditangkap dan langsung digiring ke dalam Mapolres.

 

Meskipun aparat sudah mengeluarkan tembakan gas air mata, tensi perlawanan belum mereda hingga pukul 16.20 WIB. Bentrokan sporadis masih terjadi di sekitar lokasi, sementara jalan Surotokunto dan ruas utama menuju Mapolres terjebak dalam kemacetan parah akibat kepadatan massa yang terus berdatangan.

 

Tuntutan Keadilan Menjadi Simbol Perlawanan

 

Kericuhan ini tak hanya mencuri perhatian publik di Karawang, tetapi juga mengundang gelombang emosi masyarakat. Tragedi yang menimpa Affan Kurniawan kini bukan hanya sebuah duka, tetapi juga menjadi simbol perlawanan bagi mereka yang merasa suaranya tak didengar oleh aparat. Ketidakpuasan atas kematian Affan dan penahanan pelajar semakin memperuncing hubungan antara masyarakat dan pihak kepolisian.

 

Sebuah pertanyaan besar pun menggema di tengah kericuhan ini: Apakah aparat kepolisian benar-benar siap mendengar suara rakyat, atau justru memilih untuk meredamnya dengan kekerasan?

 

Titik Temu atau Keterusakan?**

 

Dalam aksi ini, yang jelas terlihat adalah ketegangan antara masyarakat yang merasa hak-haknya terabaikan dengan aparat yang berusaha menjaga ketertiban. Namun, kericuhan ini juga menandai ketidakseimbangan dalam pendekatan polisi terhadap aksi massa. Dari pihak pengunjuk rasa, ada tuntutan agar pihak berwenang memberi penjelasan yang transparan, sementara pihak kepolisian menganggap langkah mereka diperlukan untuk menjaga situasi tetap terkendali.

 

Apa yang dimulai sebagai unjuk rasa damai untuk menuntut keadilan atas nasib seorang driver ojek online, kini telah berubah menjadi simbol keresahan masyarakat terhadap cara aparat menghadapi protes. Tuntutan mereka kini semakin kuat, dan tak hanya berkutat pada kasus Affan Kurniawan saja, tetapi juga terhadap cara negara merespons suara rakyat.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!