Unik dan Mengharukan, Santunan Anak Yatim di Pameungpeuk Gunakan Nampan Stainless Khusus, Jamaah Hingga Polisi Menitikkan Air Mata

KAB.BANDUNG, kutipannews.co.id – Suasana berbeda mewarnai peringatan Hari Raya Anak Yatim di Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Ahad (5/7/2026). Jika umumnya santunan anak yatim disalurkan melalui panitia atau pengurus lembaga sosial, kali ini santunan diberikan secara langsung oleh masyarakat kepada anak-anak yatim melalui konsep yang sederhana namun sarat makna.
.
Kegiatan hasil kolaborasi antara Polsek Pameungpeuk Polresta Bandung dan Indo Karya Teknik Group itu menghadirkan sebuah media santunan berbahan besi stainless yang dirancang khusus. Di bagian atas terdapat nampan sebagai tempat meletakkan uang santunan, sementara di bagian bawah disiapkan bingkisan yang dapat langsung dibawa pulang oleh masing-masing anak yatim.
.
Konsep tersebut menghadirkan pengalaman berbagi yang lebih dekat dan menyentuh. Satu per satu jamaah maju untuk menyerahkan santunan secara langsung. Setelah meletakkan uang di atas nampan, mereka menyalami dan mengusap kepala anak-anak yatim dengan penuh kasih sayang.
.
Momen itulah yang membuat suasana berubah menjadi sangat haru. Diiringi lantunan shalawat Nabi Muhammad SAW dan tabuhan hadrah, banyak jamaah tampak meneteskan air mata. Bahkan sejumlah anggota kepolisian yang hadir pun tidak mampu menyembunyikan rasa harunya.
.
Penyelenggara kegiatan, Kusnanto, mengatakan konsep tersebut sengaja dirancang untuk melibatkan masyarakat secara langsung agar tidak sekadar memberikan bantuan materi, tetapi juga merasakan empati yang mendalam terhadap kehidupan anak-anak yatim.
.
“Konsep ini kami buat agar jamaah bisa merasakan langsung bagaimana kondisi anak-anak yang telah kehilangan orang tuanya. Setelah memberikan santunan, mereka bisa mengusap kepala anak yatim dan berinteraksi secara langsung,” ujar Kusnanto.
.
Menurutnya, sentuhan kasih sayang menjadi bagian penting dari kegiatan tersebut. Dengan berinteraksi secara langsung, masyarakat diharapkan mampu merasakan kedekatan emosional yang lebih kuat.
.
“Dengan menyentuh langsung, harapannya muncul rasa empati yang lebih dalam, seolah-olah anak-anak itu adalah anak kita sendiri. Dari situlah rasa haru muncul secara alami,” katanya.
.
Ia menambahkan, ide penggunaan nampan stainless khusus tersebut merupakan gagasan panitia yang bertujuan menghadirkan transparansi sekaligus memperkuat nilai kebersamaan dalam berbagi. Antusiasme warga yang hadir pun disebut jauh melebihi perkiraan.
.
Sementara itu, Kapolsek Pameungpeuk, Kompol Asep Dedi, mengaku baru pertama kali mengikuti kegiatan santunan anak yatim dengan suasana yang begitu menyentuh selama dirinya bertugas di kepolisian.
.
“Yang saya rasakan di sini adalah pentingnya mencoba merasakan apa yang dirasakan oleh anak-anak yatim. Ketika shalawat dilantunkan, suasananya begitu khidmat dan mengingatkan kita pada keteladanan Rasulullah SAW dalam menyayangi anak yatim,” ungkapnya.
.
Ia mengaku tidak mampu membendung rasa haru saat mengikuti prosesi santunan tersebut. Namun di balik keharuan itu, tersimpan kebahagiaan karena dapat berbagi dan hadir bersama masyarakat dalam kegiatan yang penuh nilai kemanusiaan.
.
“Saya terharu sekaligus bersyukur. Terharu karena merasakan suasana yang sangat menyentuh, dan bersyukur karena diberi kesempatan untuk berbagi dengan anak-anak yatim,” tuturnya.
.
Sebelum prosesi santunan berlangsung, seluruh jamaah terlebih dahulu mengikuti kajian keagamaan yang bertujuan memperkuat nilai-nilai keislaman dan kepedulian sosial. Warga yang hadir juga telah menyiapkan santunan dari rumah dengan berbagai nominal, mulai dari Rp2.000 hingga Rp20.000.
.
Meski nilainya beragam, setiap lembar uang yang diberikan memiliki makna yang sama, yakni wujud kasih sayang, kepedulian, dan cinta kepada sesama. Melalui konsep santunan yang sederhana namun menyentuh ini, masyarakat Pameungpeuk menunjukkan bahwa berbagi tidak hanya soal memberi, tetapi juga menghadirkan perhatian, empati, dan pelukan hangat bagi mereka yang membutuhkan.
.
Antusiasme warga yang memadati lokasi kegiatan menjadi bukti bahwa kepedulian sosial masih tumbuh kuat di tengah masyarakat. Di bulan Muharram yang dikenal sebagai bulan penuh keberkahan, santunan tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan momentum untuk meneguhkan kembali nilai kemanusiaan dan kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.
.
(Ifal).
