Saatnya Bekerja untuk Iklim: Ikhtiar Cimahi Lepas dari Ketergantungan TPA Sarimukti

0
IMG_20260610_122301

Walikota Cimahi Ngatiyana, secara simbolis berikan uang santunan Rp 42 Juta sebagai jaminan kematian kepada dua petugas penarik sampah dan satu tenaga outsourcing UPTD Pelayanan Persampahan yang telah wafat. (Foto BS).

Walikota Cimahi Ngatiyana, secara simbolis berikan uang santunan Rp 42 Juta sebagai jaminan kematian kepada dua petugas penarik sampah dan satu tenaga outsourcing UPTD Pelayanan Persampahan yang telah wafat. (Foto BS).

CIMAHI, kutipannews.co.id – Ancaman perubahan iklim global bukan lagi sekadar dongeng pengantar tidur. Di Kota Cimahi, ancaman itu nyata dan berkejaran dengan waktu, berkelindan erat dengan persoalan klasik yang kian mendesak: sampah.

 

Dengan produksi sampah yang menembus angka sekitar 250 ton per hari, Pemerintah Kota Cimahi memilih tidak tinggal diam. Momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 yang mengusung tema “Saatnya Bekerja untuk Iklim”, dijadikan titik balik untuk mempercepat langkah nyata, bukan sekadar seremonial tahunan di Kompleks Perkantoran Pemkot Cimahi, Senin (8/6/2026).

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi, Chanifah Listyarini.

Alarm Keras dari Sarimukti

Isu lingkungan hari ini sudah bergeser jauh. Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, menegaskan bahwa urusan sampah bukan lagi soal sapu dan kebersihan semata, melainkan benteng pertahanan pertama melawan krisis iklim.

 

“Perubahan iklim merupakan tantangan nyata yang harus dihadapi bersama. Karena itu, pengelolaan sampah harus dilakukan secara lebih serius mulai dari sumbernya, bukan hanya ketika sudah menumpuk di tempat pembuangan,” tegas Ngatiyana.

 

Kondisi ini kian kritis seiring rencana penghentian operasional Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti. Bagi wilayah Bandung Raya, termasuk Cimahi, kabar ini adalah alarm keras. Ketergantungan pada TPA harus diputus, dan kemandirian pengelolaan sampah adalah harga mati yang tak bisa ditawar lagi.

 

Ngatiyana mengingatkan, pemerintah tidak bisa berjalan sendirian. Butuh formula kolaborasi pentahelix yang melibatkan masyarakat, dunia pendidikan, pelaku usaha, komunitas, media, hingga akademisi.

.

ASN Masuk Kampung, Jemput Perubahan

Menjawab tantangan itu, Pemkot Cimahi langsung tancap gas dengan meluncurkan strategi door to door. Melalui Tim Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan Persampahan Tingkat RT, para Aparatur Sipil Negara (ASN) didelegasikan untuk turun langsung ke rumah-rumah warga.

 

Tugas mereka berat namun mulia: mendampingi, mengedukasi, dan mengubah mindset masyarakat. Sampah tak lagi dipandang sebagai limbah menjijikkan yang harus dibuang, melainkan sumber daya baru yang memiliki nilai ekonomi tinggi jika dipilah dengan benar sejak dari dapur rumah.

.

Garda Perubahan di Tangan Anak Sekolah

Sektor pendidikan didapuk menjadi hulu dari perubahan budaya ini. Melalui gerakan SERALIKOCI (Sekolah Ramah Lingkungan Kota Cimahi), Program Sekolah Sedekah Sampah terbukti menjadi pemantik sukses yang luar biasa.

 

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi, Chanifah Listyarini, memaparkan bahwa sebanyak 94 sekolah telah aktif bergerak. Anak-anak mengumpulkan sampah anorganik bernilai ekonomis seperti botol plastik, kardus, dan kertas.

 

Hasilnya tidak main-main. Dalam catatan aksi sebelumnya, sekolah-sekolah di Cimahi berhasil menyelamatkan hampir empat ton sampah agar tidak berakhir sia-sia di TPA.

 

“Anak-anak memiliki peran strategis sebagai agen perubahan. Melalui kebiasaan memilah sampah sejak dini, mereka dapat membawa budaya peduli lingkungan ke keluarga dan masyarakat,” ungkap Chanifah optimis.

 

Tak berhenti di tingkat sekolah dasar dan menengah, Pemkot Cimahi juga menggandeng sejumlah perguruan tinggi. Lewat penandatanganan komitmen bersama, kampus-kampus ini ditantang untuk melahirkan riset dan inovasi teknologi tepat guna demi menjawab rumitnya persoalan sampah perkotaan.

.

Penghormatan untuk Pejuang Sunyi

Di balik megahnya perayaan dan target-target besar kota, ada rasa humanis yang tak dilupakan. Peringatan hari lingkungan hidup ini juga menjadi momen haru saat Pemkot Cimahi menyerahkan santunan jaminan kematian kepada ahli waris dua petugas penarik sampah dan satu tenaga outsourcing UPTD Pelayanan Persampahan yang telah berpulang.

 

Pemberian santunan ini menjadi bentuk penghormatan tertinggi bagi mereka—para pejuang sunyi yang selama ini berdiri di garda terdepan, bertaruh kesehatan demi menjaga kebersihan Kota Cimahi.

 

Melalui langkah kolektif dan kolaboratif ini, Kota Cimahi sedang merajut asa baru: mereduksi sampah, menyadarkan warga, dan membangun benteng ketahanan kota yang kokoh demi menghadapi perubahaniklim di masa depan.

 

(BS/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!