ITB Kenalkan “Smart-Nursery Backpack”, Teknologi Ransel Cerdas untuk Regenerasi Rotan di Sulawesi Tengah

0
IMG-20260725-WA0015

Donggala,Kutipan-news.co.od  – Institut Teknologi Bandung (ITB) memperkenalkan inovasi ITB Smart-Nursery Backpack atau Ransel Cerdas untuk Persemaian Rotan Lestari, sebuah teknologi persemaian portabel yang dirancang untuk meningkatkan keberhasilan regenerasi bibit rotan di Indonesia. Program tersebut diluncurkan di Hutan Desa Nupabomba, Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, pada 24 Juli 2026.

 

Inovasi ini dikembangkan oleh tim lintas fakultas ITB yang dipimpin Dr. Acep Purqon dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB. Tim juga melibatkan Dr. Deny Willy Junaidy dari Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB, Prof. Ramadhani Eka Putra dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB, serta sejumlah mahasiswa ITB.

 

Peluncuran teknologi tersebut dilakukan melalui kolaborasi bersama Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Nupabomba, pemerintah desa, komunitas petani rotan, hingga pelaku industri rotan lokal. Program ini mengusung konsep “Forest-to-Home” (Hutan ke Rumah), yakni mengajak masyarakat merawat bibit rotan di lingkungan rumah sebelum dikembalikan ke habitat alaminya.

 

Menurut Ketua Tim Pelaksana, Dr. Acep Purqon, regenerasi rotan di alam selama ini menghadapi tantangan besar. Banyak biji rotan gagal berkecambah, sementara bibit muda yang berhasil tumbuh sering kali tidak mampu bertahan akibat serangan hama maupun perubahan kondisi lingkungan.

 

“Ransel Cerdas untuk Persemaian Rotan Lestari (ITB Smart-Nursery Backpack) kami rancang sebagai teknologi yang dapat dikendalikan melalui telepon pintar untuk mengatur sistem sensor secara otomatis. Dengan teknologi ini, masyarakat dan petani rotan dapat berperan langsung membantu proses perkecambahan dan perawatan bibit rotan pada fase kritis selama tiga bulan pertama, langsung dari rumah,” kata Acep Purqon.

 

Ransel cerdas tersebut dirancang sebagai unit persemaian portabel berbentuk tas punggung yang mampu menampung sekitar 50 hingga 100 bibit rotan dalam satu unit. Perangkat ini dilengkapi sistem penyiraman otomatis, sensor kelembapan, lampu UV, serta pelindung dari hama sehingga mampu menciptakan lingkungan tumbuh yang lebih optimal pada fase awal pertumbuhan bibit.

 

Selain mengandalkan teknologi, perangkat tersebut juga dirancang dengan pendekatan biophilic co-living, yaitu konsep yang mengintegrasikan ruang hijau ke dalam lingkungan tempat tinggal. Dengan demikian, persemaian tidak hanya berfungsi sebagai tempat pembibitan, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat yang lebih dekat dengan alam.

 

Kolaborasi dalam program ini melibatkan LPHD Nupabomba, Kepala Desa Idral, Sekretaris Desa Iful Daud, Ketua LPHD Yen, komunitas petani rotan, serta Kamardin, S.T. dari PT Bamba Rattan Furniture di Palu. Keterlibatan berbagai pihak tersebut diharapkan mampu memperkuat keberlanjutan program sekaligus meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menjaga kawasan hutan.

 

Dr. Deny Willy Junaidy menjelaskan, keterlibatan pelaku industri menjadi bagian penting agar inovasi yang dikembangkan di kampus dapat diterapkan langsung oleh masyarakat hingga pelaku usaha.

 

“Keterlibatan PT Bamba Rattan Furniture sebagai representasi industri kecil dan menengah memastikan proses transfer pengetahuan berlangsung dari komunitas petani hingga mitra usaha. Dengan demikian, terbentuk alih pengetahuan yang utuh dari hulu hingga hilir,” ujarnya.

 

Sebelum diterapkan di lapangan, prototipe ITB Smart-Nursery Backpack dikembangkan menggunakan teknologi 3D printing di Furniture & Living Lab FSRD ITB, kemudian dipadukan dengan sistem kendali cerdas berbasis aplikasi yang memungkinkan pemantauan dan pengoperasian dilakukan melalui telepon pintar.

 

Melalui sinergi antara perguruan tinggi, masyarakat, pemerintah desa, dan sektor industri, program ini diharapkan menjadi model baru pengelolaan persemaian rotan berkelanjutan di Indonesia. Konsep Forest-to-Home dinilai mampu menggabungkan inovasi teknologi, pemberdayaan masyarakat, pelestarian ekosistem hutan tropis, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal di kawasan penghasil rotan.

 

Ke depan, tim peneliti berharap model tersebut mendapat dukungan dari pemerintah daerah, kementerian, dan berbagai instansi terkait agar dapat diterapkan lebih luas di berbagai daerah penghasil rotan di Indonesia.(Saifal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!