Sekda Karawang Paparkan Inovasi Pelayanan Publik Digital di Forum Jakarta Smart City
JAKARTA, Kutipan-news.co.id – Sekretaris Daerah Kabupaten Karawang, H. Asep Aang Rahmatullah, mengingatkan pemerintah daerah agar tidak menjadikan banyaknya aplikasi sebagai ukuran keberhasilan transformasi digital.
Menurut Asep Aang, konsep smart city harus berorientasi pada penyelesaian persoalan masyarakat dan peningkatan kualitas pelayanan publik.
Hal tersebut disampaikannya dalam forum JAKI & Fellowship Cities Forum: Sharing Best Practices in Digital Transformation and Public Innovation di Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Asep Aang mengatakan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), cloud computing, big data, dan berbagai teknologi digital telah membuka peluang besar bagi pemerintah untuk meningkatkan pelayanan.
Namun, teknologi tersebut hanya akan memberikan manfaat apabila digunakan berdasarkan kebutuhan masyarakat.
“Transformasi digital di Karawang ini suatu keniscayaan. Ada banyak aplikasi yang muncul, tetapi pertanyaannya apakah aplikasi itu bisa menjawab permasalahan di masyarakat,” katanya.
Ia menilai perubahan paling penting dalam transformasi digital justru terletak pada perubahan cara pemerintah bekerja.
Pemerintah, kata dia, perlu memperkuat kepemimpinan, tata kelola, koordinasi lintas sektor, integrasi data, serta inovasi secara berkelanjutan.
Dalam konteks Kabupaten Karawang, salah satu penerapannya dilakukan melalui Tangkar. Sistem tersebut dikembangkan untuk memperkuat pengelolaan pengaduan masyarakat sekaligus mendorong koordinasi antarinstansi dalam menyelesaikan laporan.
Asep Aang menegaskan, keberadaan teknologi tidak boleh membuat pemerintah hanya berorientasi pada sistem. Sebaliknya, sistem harus menjadi alat untuk mempercepat penyelesaian persoalan masyarakat.
“Teknologi pada dasarnya hanya sebagai enabler atau pengungkit,” ujarnya.
Menurut dia, pemerintah daerah perlu melihat transformasi digital sebagai proses jangka panjang. Perubahan tersebut mencakup aspek teknologi sekaligus budaya kerja birokrasi.
“Transformasi benar-benar terjadi ketika kepemimpinan berubah, tata kelola diperkuat, kerja lintas sektor berjalan, sistem dan data terintegrasi, serta inovasi terus dikembangkan,” katanya.
Dengan pendekatan tersebut, konsep smart city diharapkan tidak berhenti pada pembangunan infrastruktur dan aplikasi digital, tetapi menghasilkan pemerintahan yang lebih mudah diakses, cepat merespons, dan mampu memberikan solusi terhadap kebutuhan masyarakat.(Rls/MD)
