Inilah Kronologi Wafatnya Mahasiswa UNSIKA di Gua Lele

0

Laporan : Vian

Karawang, kutipan-news.co.id Insiden mahasiswa Mapala Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) yang menyebabkan tiga orang meninggal, diawali dengan kegiatan caving atau susur gua di Kampung Tanah Beureum, Desa Tamansari, Kecamatan Pangkalan, Karawang.

Ketua Adat Mapala Unsika Wido Arya Ritaldi, kepada wartawan menuturkan, awalnya ada permintaan dari mahasiswa Polibisnis Purwakarta untuk berbagi ilmu soal susur gua.

Pihak Mapala Unsika mengiyakan permintaan itu. Dari situ, berangkatlah 15 mahasiswa yang terdiri dari sembilan mahasiswa Unsika dan enam mahasiswa Polibisnis Purwakarta.

“Akhirnya kami bawa teman-teman ke Gua Bao,” kata Wido.

Minggu (23/12) siang, tim tiba di Gua Lele. Mereka dipecah menjadi beberapa grup. Enam orang berjaga di kamp yang letaknya 20 meter dari gua, ada yang berjaga di luar gua, ada yang berjaga di bawah mulut gua, dan lima orang turun ke dalam gua.

“Jadi total ada delapan orang yang masuk ke gua. Tiga orang berjaga dekat mulut gua, lima orang turun ke bawah,” kata Wido.

Tim, kata Rido, sudah melakukan persiapan fisik dan perlengkapan. Cuaca juga terpantau cerah. “Makanya kami berani masuk,” tuturnya.

Jam dua siang, setelah berdoa, delapan mahasiswa turun ke dalam gua dengan peralatan caving lengkap. Mereka adalah:

1.Dimas Rizki kurniawan (18) mahasiswa Unsika Karawang asal Cipayung, Jakarta Timur.
2.Nur Ali (20) mahasiswa Unsika karawang asal, Setu Bekasi.
3. Evo rahmat yulistiadi (21) mahasiswa unsika asal Solok, Sumatera Barat.
4. Hipni suhaepi (22) mahasiswa Polibisnis Purwakarta.
5. M. Ihsan nur rahman (21) dari Polibisnis Purwakarta.
6. Erisya Rifania (20) mahasiswi Unsika asal Bogor.
7. Arif Rindu Arrafah (18) mahasiswa Unsika
asal Kabupaten Bogor.
8. Ainan Fatmatuzzaroh (19) mahasiswa Unsika asal Kabupaten Banjarnegara.

Namun tanpa diduga, cuaca berubah drastis dalam waktu kurang dari satu jam. Setengah jam di dalam gua, langit tiba-tiba gelap. Hujan turun dengan deras.

Begitu hujan turun, kata Wido, tiga orang yang bertugas di mulut gua, sempat memberikan informasi kepada tim yang bertugas di dekat mulut gua. Tiga orang yang berjaga kemudian meneruskan informasi perubahan cuaca kepada lima orang yang sedang eksplorasi di dalam.

“Akhirnya tim eksplorasi segera menarik diri untuk kembali,” kata Wido.

Lima orang itu, ungkap Wido mencoba bergerak dengan cepat. Namun saat kedalaman 30 meter di bawah tanah, air tiba- tiba masuk ke dalam gua. Saat itu, air tiba- tiba muncul dari semua celah dan lubang gua.

“Mereka keburu kena banjir bandang yang muncul dari segala arah,” kata Wido.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *