Bandung, Kutipannews.co.id – Kabupaten Bandung sesungguhnya adalah raksasa kebudayaan yang sedang tertidur. Dengan torehan 13 juta wisatawan sepanjang tahun 2025 serta kepemilikan aset mentereng berupa 10.473 pelaku seni, ratusan paguron, hingga kemasyhuran Wayang Golek Giri Harja, wilayah ini memiliki modal lanskap kultural yang luar biasa tangguh. Namun, potensi besar tersebut dinilai belum terkonversi optimal menjadi daya pikat utama pariwisata daerah.
Realitas inilah yang memantik pemikiran mendalam Bupati Bandung, Dadang Supriatna. Saat merajut silaturahmi bersama tokoh budayawan di Rumah Dinas Jabatan, Selasa (26/5/2026), pria yang akrab disapa Kang Dadang Supriatna (KDS) itu melontarkan sebuah refleksi sekaligus tantangan terbuka yang menggugah kesadaran kolektif.
Bupati Bandung bersama para pelaku seni dan paguron.
“Kita memiliki 500 lingkung seni, 51 jenis kesenian, puluhan cagar budaya, dengan total 10.473 pelaku seni dan budaya. Tapi pertanyaannya, kenapa kita tidak bisa seperti Bali atau Yogya?” ungkap KDS lugas, membedah sekat stagnasi.
Bupati menegaskan, komitmen pemerintah daerah dalam mendukung ekosistem kebudayaan telah tuntas secara struktural maupun jaminan sosial. Mulai dari pemisahan institusi menjadi Dinas Kebudayaan agar lebih fokus bergerak, penyusunan kurikulum muatan lokal di tingkat SD-SMP, hingga pemberian fasilitas BPJS Ketenagakerjaan gratis bagi para seniman. Kini, bola keberhasilan berada di tangan para pelaku seni untuk keluar dari zona nyaman.
KDS menginstruksikan para seniman untuk mengikis habis ego sektoral dan tidak sekadar bergantung pada APBD. Kunci masa depan pariwisata Kabupaten Bandung terletak pada aginitas kolaborasi multidimensi antara pelaku budaya, sektor perhotelan, cagar budaya, serta agen travel perjalanan untuk menyuguhkan atraksi lokal yang hidup dan memikat.
Langkah taktis ini disambut responsif oleh Disparekraf dan Dinas Kebudayaan yang kini tengah merumuskan format ajang tahunan yang ikonik. Melalui sinergi yang kokoh, kekayaan tradisi luhur Kabupaten Bandung tidak sekadar menjadi catatan sejarah yang pasif, melainkan menjelma menjadi motor penggerak ekonomi kreatif yang mandiri, berkarakter, dan membawa semangat Kabupaten Bandung yang Lebih Bedas. ***