Karawang Moal Cicing! Aliansi BEM Bakal Kepung Jalanan 23 Juni, Protes Pemotongan Anggaran Rp800 Miliar hingga Kabinet Gemuk

KARAWANG, kutipannews.co.id – Gelombang perlawanan mahasiswa di lumbung padi Jawa Barat kembali merebak. Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Karawang secara resmi menyatakan sikap akan menggelar aksi massa besar-besaran pada Selasa, 23 Juni 2026 mendatang. Langkah ini diambil sebagai bentuk eskalasi gerakan atas kondisi ekonomi nasional yang dinilai kian mencekik leher rakyat kecil di daerah.
.
Dalam konferensi pers yang digelar di Karawang, Jumat (19/6/2026), para aktivis kampus ini dengan lantang menyebut Indonesia sedang berada di ambang krisis ekonomi yang serius. Mereka menuding kebijakan pemerintah pusat tidak lagi berpihak pada efisiensi, melainkan sibuk membiayai syahwat politik lewat struktur birokrasi kabinet yang “gemuk” dan boros anggaran.
.
Jeritan Daerah di Tengah Kemewahan Pusat
Kritik tajam mahasiswa bukan tanpa alasan. Di saat APBN membengkak demi memfasilitasi birokrasi pusat, Kabupaten Karawang justru harus menelan pil pahit. Aliansi BEM Karawang membeberkan fakta miris: Dana Transfer ke Daerah untuk Kabupaten Karawang dipangkas hingga mencapai Rp800 miliar.
.
Sebuah angka yang fantastis, yang jika dikonversi ke lapangan, berarti penurunan kualitas layanan publik, tersendatnya pembangunan, dan ancaman langsung terhadap kesejahteraan masyarakat Karawang yang sehari-hari sudah kepayahan menghadapi himpitan ekonomi.
.
“Ini adalah bentuk ketidakadilan fiskal yang nyata. Pusat berpesta dengan kabinet gemuknya, sementara daerah dipaksa berpuasa dan menanggung dampaknya,” cetus salah satu perwakilan aliansi.
.
Sebagai bentuk perlawanan, Aliansi BEM Karawang resmi menyatakan “Mosi Tidak Percaya” kepada pemerintah dan menyodorkan sejumlah tuntutan krusial.
.
Dari Efisiensi APBN hingga Sengkarut Program MBG
Dalam catatan tuntutannya, mahasiswa mendesak pemerintah pusat segera menghentikan pembengkakan APBN dengan melakukan rasionalisasi struktur birokrasi agar lebih efisien.
.
Tak hanya itu, program kosmetik pusat yang mulai merambah daerah pun tak luput dari bidikan kritis mahasiswa. Mereka dengan tegas mendesak penghentian pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Karawang. Program ini dinilai belum efektif, minim urgensi, dan terkesan dipaksakan. Aliansi mahasiswa menuntut agar anggaran raksasa tersebut dialihkan ke sektor yang jauh lebih menyentuh akar rumput: pendidikan, kesehatan, dan penuntasan angka pengangguran yang masih menjadi momok di Karawang.
.
Untuk memulihkan daya beli masyarakat kelas menengah yang kian rontok, mereka juga menuntut penurunan harga BBM non-subsidi. Tekanan ekonomi hari ini dinilai sudah di luar batas kewajaran bagi warga untuk sekadar bertahan hidup dari hari ke hari.
.
Menjaga Demokrasi dan Menuntut Keadilan Lokal
Sisi humanis dan komitmen menjaga iklim demokrasi juga disuarakan secara mendalam. Mahasiswa mendesak agar aparat TNI dan Polri ditarik dari ruang sipil demi menjaga supremasi sipil dan menghentikan sekuritisasi pembangunan. Intimidasi dan pembungkaman harus diakhiri: stop kriminalisasi dan bebaskan tahanan politik demi menjamin kemerdekaan berpendapat.
.
Di level lokal, rapor merah juga diberikan kepada Pemerintah Kabupaten Karawang. Aliansi BEM menuntut ketegasan pemda untuk:
* Menerbitkan regulasi yang menjamin kesejahteraan buruh secara nyata.
* Memperketat pengawasan terhadap aktivitas tambang dan PLTGU di Karawang yang terbukti merusak lingkungan dan merugikan warga sekitar.
* Menaikkan upah guru daerah melalui optimalisasi anggaran Bosda. Bagaimanapun, kesejahteraan guru adalah kunci dari kualitas pendidikan daerah yang tidak boleh dikorbankan.
.
“Karawang Moal Cicing! Lawan!”
Menutup pernyataannya, Aliansi BEM Karawang mengetuk pintu kesadaran seluruh elemen masyarakat. Mereka mengajak mahasiswa, pemuda, kaum buruh, petani, hingga seluruh lapisan masyarakat sipil untuk turun ke jalan, bersatu padu memadati Bundaran Novotel Karawang pada 23 Juni nanti.
.
Aksi ini dirancang bukan sekadar demonstrasi biasa, melainkan momentum konsolidasi akbar rakyat Karawang yang sudah lelah dengan kebijakan yang mencekik.
.
Dengan pekikan slogan yang membakar semangat, “Karawang Moal Cicing! Lawan!”, kaum intelektual muda ini menegaskan posisi mereka: akan terus berdiri di garda terdepan, mengawal kebijakan publik, dan merebut kembali keadilan sosial yang dirampas dari rakyat. ***
